Showing posts with label kita. Show all posts
Showing posts with label kita. Show all posts
Sunday, December 8, 2013
Cerpen Persahabatan 2012 SEMUA TENTANG KITA
Cerpen Persahabatan kali ini dikirim oleh Alief Murobby. Ini merupakan cerpen keduanya yang dipublikasikan di Gen22. Cerpen pertamanya, bisa dilihat dalam Cerpen Kasih Sayang: OH, BUNDA!
SEMUA TENTANG KITA
oleh: Alief Murobby
Catherine masih berbaring di atas kasurnya, sepasang earphone tergantung di telinganya. Lagu Favorite Girl dari Justin Bieber mengalun pelan dari iPod merahnya. Dia menghela nafas panjang, kemudian melepaskan diri dari rumus-rumus Fisika yang baru dibacanya. Dengan agak lelah, Catherine meraih Toshiba Qosmio-nya dan mulai browsing. Saat dia sedang membuka situs puisi kesukaannya, matanya tertumbuk pada judul salah satu puisi. Perpisahan.
Cewek itu tersentak. Dia baru ingat perkataan Papa tiga hari yang lalu, saat sang ayah berkata bahwa mereka akan pindah ke Oxford karena sang ayah ada pekerjaan disana. Dia belum memberitahukan hal ini pada siapapun, bahkan pada Zora, cowok usil sahabatnya sejak kecil.
“ Bagaimana caranya gue memberitahu dia, ya?” gumam Catherine lirih, mengambil foto kecil yang tergeletak di atas meja kecil di samping kasurnya.
Seorang cowok tersenyum lebar ke arah kamera sambil memeluk pundak seorang cewek yang juga tersenyum. Danau dan hutan menjadi background foto itu. Foto itu diambil saat mereka pergi berlibur ke danau Bedugul, Bali. Catherine terus menatap foto itu hingga ia jatuh tertidur.
Sebuah pohon beringin besar berdiri di taman belakang sekolah yang sepi. Rumah pohon berukuran sedang berdiri kokoh diantara dahan-dahannya. Kata orang-orang, pohon itu angker, tapi Catherine tak peduli. Dia dan sahabatnya malah menganggap rumah pohon itu sebagai tempat nongkrong yang paling asyik karena jauh dari keramaian. Begitu sampai di depan pohon, Catherine meraih tangga tali yang terjulur dan dengan lincah memanjat ke atas. Sesampainya di atas, dia melihat seorang cowok yang duduk membelakangi dirinya. Tangannya bergerak-gerak diatas kertas putih besar, sketsa pemandangan tercetak di atasnya. Tanpa suara, Catherine mengendap-endap dan berdiri di belakang cowok itu yang sama sekali tak menyadari kedatangan Catherine.
“ Zora!” teriak Catherine keras, mengagetkan Zora yang sedang asyik menggambar. Tanpa sengaja dia mencoret gambarnya endiri, menyisakan garis panjang yang merusak gambar hampir sempurna itu. Zora cemberut, menatap Catherine yang cekikikan senang.
“ Damn! Ngaget-ngagetin aja lo! Persis banget sama kucing!” seru Zora marah. Dia ingin kembali menggambar, tapi begitu melihat cacat besar dalam gambarnya, dia hanya mengeluh pelan. Cat –panggilan Zora pada Catherine yang sering mengendap-endap seperti kucing- duduk di samping Zora, masih meyisakan sedikit tawa.
“ Sori, sori. Lagian lo khusyuk banget sih, sampe nggak menyadari kehadiran gue.” Zora mendengus keras, kembali menekuni gambarnya yang rusak parah.
“ Ehm, boleh gue ngomong? Pentiiing banget. Serius!”
“ Emang lo pernah serius?” sindir Zora, rupanya masih sedikit dongkol. Tapi dia langsung terdiam begitu melihat Cat yang diam dan menerawang ke depan. Dia begitu hafal ekspresi Catherine yang satu itu.
Akhirnya, Catherine pun mulai bercerita. “ Tiga hari yang lalu, Papa ngomong sesuatu. Beliau bilang bahwa beliau akan bekerja di Oxford. Terpaksa gue ikut. Jadi gue akan pindah setelah acara kelulusan lima hari lagi.” Beban berat yang mengganjal di hatinya sedikit terangkat. Tetapi beban baru kembali membebani dirinya saat melihat Zora yang menatapnya dengan tajam. Catherine tak suka dengan ekspresi Zora yang satu itu. Akhirnya dia berpaling dan menatap langit yang lama-kelamaan semakin terang, membiarkan sahabatnya untuk berpikir.
Suara Zora membuat Cat menoleh. Dia tahu Zora baru saja bicara padanya, tapi karena tadi dia sedang melamun, ia pun tak mendengarnya.
“ Lo bilang apa tadi?”
“ Kenapa lo baru ngomong sekarang?” Zora bertanya lagi sambil terus menatap Cat, membuat cewek itu bergerak-gerak gelisah. Bel berdering di kejauhan, tapi Zora tak peduli. Toh dia berniat bolos hari ini.
Catherine tak bisa menjawab pertanyaan cowok itu. Berbagai alasan yang dipikirkannya tak cukup meyakinkan. Zora lalu beranjak sambil membawa alat-alat gambarnya, meninggalkan Catherine yang menatapnya dengan perasaan bersalah.
Dua hari sebelum kelulusan, 05:10 pm, di rumah pohon...
Catherine berjalan pelan menyusuri sekolahnya yang sudah sepi. Rumahnya dan rumah Zora memang dekat dengan sekolah. Dengan gontai, dia memanjat rumah pohon itu dan tak taerkejut saat melihat Zora tidak ada disana. Beberapa hari ini, cowok itu memang seperti sedang menjauhi dirinya.
Dan Catherine tidak suka, sangat benci malah, pada keadaan seperti ini. Di hari-hari terakhirnya di Indonesia, dia sebenarnya ingin selalu bersama Zora, bukannya saling berjauhan seperti ini. Biasanya tiap sore dia dan Zora nongkrong di rumah pohon itu sambil memandang sunset yang fantastis, dan saling ngobrol.
Kenapa jadi begini, sih? Batin Catherine bertanya-tanya, dan ia mulai menangis saat ia teringat semua kenangannya saat bersama zora. Air matanya turun tanpa dapat dicegahnya. Lalu ia jatuh terduduk, dan mendekap lututnya sendiri.
Seseorang tiba-tiba saja memeluknya, membuatnya sedikit kaget. Tapi beberapa detik kemudian dia mulai rileks. Bau itu adalah wangi khas tubuh Zora. Pelukan itu adalah pelukan lembut Zora yang senantiasa menenangkan batinnya. Cat beringsut, memeluk Zora lebih erat, dan menangis lebih kencang. Zora jadi bingung.
“ Hey, kok malah makin kenceng nangisnya? Udah-udah,” ujar Zora lembut, mengelus rambut Catherine. “ maafin gue ya?”
Pernyataan maaf dari Zora membuat Catherine mengangkat kepalanya dari dada Zora, lalu menatapnya dengan mata yang sedikit bengkak. Zora balas menatapnya dengan lembut.
“ For what?”
“ Maaf karena gue egois. Seharusnya gue nemenin lo selama hari-hari ini, bukannya marah-marah sama lo. Maafin gue ya?” ucap Zora sambil menghapus sisa-sisa air mata di wajah sahabatnya itu. Catherine hanya diam, kemudian memeluk cowok itu dengan lebih erat.
“ Gue nggak marah kok. Gue cuma sedih aja, sebentar lagi gue nggak bisa lihat wajah jahil lo lagi.”
Perkataan terakhir Catherine membuat Zora mendapat ide cemerlang.
“ Tenang aja. Gue akan buat sesuatu yang spektakuler besok.”
Semoga bukan ide yang ekstrem, batin Catherine lalu membuang semua pikiran-pikiran negatifnya.
Di lain pihak, Zora sedang menyiapkan kejutannya. Dia menatap hasil karyanya, dan tersenyum puas.
“ Oke, semuanya stand by di posisi masing-masing. Sebentar lagi teman kecil kita akan datang!” seru Zora, memberikan instruksi. Dalam hatinya dia bergumam, lo pasti akan terkejut, Cat!
Walaupun pikirannya penuh tanya, Cat tetap melangkahkan kakinya menuju gedung pertemuan. Sesampainya disana, ia agak ragu untuk memasukinya. Pasalnya, gedung pertemuan yang biasanya terang, kini gelap gulita. Dengan agak takut, Catherine melangkah masuk.
Tiba-tiba di kejauhan muncul satu nyala api diikuti dengan nyala api yang lain. Catherine terperangah. Semua orang ternyata ada disana sambil membawa masing-masing satu lilin. Zora tiba-tiba saja sudah berada di hadapannya dengan senyum lebar. Tanpa dikomandoi, terdengar koor yang membahana.
Zora merangkul Catherine yang mulai menangis, tak tahu harus sedih, terharu, atau bahagia. Zora mengelus rambutnya dengan lembut, berusaha menenangkannya.
Suara serak disampingnya membuat Zora menoleh. Catherine mulai ikut bernyanyi diselingi dengan sesenggukan. Cat menatap Zora yang juga menatapnya.
“ Gue pasti kesepian disana. Terus kabari gue lewat e-mail ya?”
“ Hah, cuma e-mail!? Kamu minta gajah pun bakal aku kirimin kok!” kelakar Zora, membuat Cat tertawa. Dia memeluk Zora dengan lebih erat.
“ Kamu adalah sahabat terbaik yang pernah kupunya,” ujar Catherine.
“ Kamu juga sahabatku yang paling hebat,” timpal Zora, mempererat pelukannya.
ReadFull Article ..
SEMUA TENTANG KITA
oleh: Alief Murobby

Cewek itu tersentak. Dia baru ingat perkataan Papa tiga hari yang lalu, saat sang ayah berkata bahwa mereka akan pindah ke Oxford karena sang ayah ada pekerjaan disana. Dia belum memberitahukan hal ini pada siapapun, bahkan pada Zora, cowok usil sahabatnya sejak kecil.
“ Bagaimana caranya gue memberitahu dia, ya?” gumam Catherine lirih, mengambil foto kecil yang tergeletak di atas meja kecil di samping kasurnya.
Seorang cowok tersenyum lebar ke arah kamera sambil memeluk pundak seorang cewek yang juga tersenyum. Danau dan hutan menjadi background foto itu. Foto itu diambil saat mereka pergi berlibur ke danau Bedugul, Bali. Catherine terus menatap foto itu hingga ia jatuh tertidur.
***
SMP Tunas Bangsa masih sepi saat Catherine tiba, padahal arloji kecil di tangan kirinya telah menunjukkan jam 6:50 pagi. Rata-rata murid-muridnya malas masuk kelas sebelum bel berdering dan memilih nongkrong di warung-warung di depan sekolah. Tanpa meletakkan tas jinjingnya terlebih dahulu, dia langsung melesat ke belakang sekolah.Sebuah pohon beringin besar berdiri di taman belakang sekolah yang sepi. Rumah pohon berukuran sedang berdiri kokoh diantara dahan-dahannya. Kata orang-orang, pohon itu angker, tapi Catherine tak peduli. Dia dan sahabatnya malah menganggap rumah pohon itu sebagai tempat nongkrong yang paling asyik karena jauh dari keramaian. Begitu sampai di depan pohon, Catherine meraih tangga tali yang terjulur dan dengan lincah memanjat ke atas. Sesampainya di atas, dia melihat seorang cowok yang duduk membelakangi dirinya. Tangannya bergerak-gerak diatas kertas putih besar, sketsa pemandangan tercetak di atasnya. Tanpa suara, Catherine mengendap-endap dan berdiri di belakang cowok itu yang sama sekali tak menyadari kedatangan Catherine.
“ Zora!” teriak Catherine keras, mengagetkan Zora yang sedang asyik menggambar. Tanpa sengaja dia mencoret gambarnya endiri, menyisakan garis panjang yang merusak gambar hampir sempurna itu. Zora cemberut, menatap Catherine yang cekikikan senang.
“ Damn! Ngaget-ngagetin aja lo! Persis banget sama kucing!” seru Zora marah. Dia ingin kembali menggambar, tapi begitu melihat cacat besar dalam gambarnya, dia hanya mengeluh pelan. Cat –panggilan Zora pada Catherine yang sering mengendap-endap seperti kucing- duduk di samping Zora, masih meyisakan sedikit tawa.
“ Sori, sori. Lagian lo khusyuk banget sih, sampe nggak menyadari kehadiran gue.” Zora mendengus keras, kembali menekuni gambarnya yang rusak parah.
“ Ehm, boleh gue ngomong? Pentiiing banget. Serius!”
“ Emang lo pernah serius?” sindir Zora, rupanya masih sedikit dongkol. Tapi dia langsung terdiam begitu melihat Cat yang diam dan menerawang ke depan. Dia begitu hafal ekspresi Catherine yang satu itu.
Akhirnya, Catherine pun mulai bercerita. “ Tiga hari yang lalu, Papa ngomong sesuatu. Beliau bilang bahwa beliau akan bekerja di Oxford. Terpaksa gue ikut. Jadi gue akan pindah setelah acara kelulusan lima hari lagi.” Beban berat yang mengganjal di hatinya sedikit terangkat. Tetapi beban baru kembali membebani dirinya saat melihat Zora yang menatapnya dengan tajam. Catherine tak suka dengan ekspresi Zora yang satu itu. Akhirnya dia berpaling dan menatap langit yang lama-kelamaan semakin terang, membiarkan sahabatnya untuk berpikir.
Suara Zora membuat Cat menoleh. Dia tahu Zora baru saja bicara padanya, tapi karena tadi dia sedang melamun, ia pun tak mendengarnya.
“ Lo bilang apa tadi?”
“ Kenapa lo baru ngomong sekarang?” Zora bertanya lagi sambil terus menatap Cat, membuat cewek itu bergerak-gerak gelisah. Bel berdering di kejauhan, tapi Zora tak peduli. Toh dia berniat bolos hari ini.
Catherine tak bisa menjawab pertanyaan cowok itu. Berbagai alasan yang dipikirkannya tak cukup meyakinkan. Zora lalu beranjak sambil membawa alat-alat gambarnya, meninggalkan Catherine yang menatapnya dengan perasaan bersalah.
Dua hari sebelum kelulusan, 05:10 pm, di rumah pohon...
Catherine berjalan pelan menyusuri sekolahnya yang sudah sepi. Rumahnya dan rumah Zora memang dekat dengan sekolah. Dengan gontai, dia memanjat rumah pohon itu dan tak taerkejut saat melihat Zora tidak ada disana. Beberapa hari ini, cowok itu memang seperti sedang menjauhi dirinya.
Dan Catherine tidak suka, sangat benci malah, pada keadaan seperti ini. Di hari-hari terakhirnya di Indonesia, dia sebenarnya ingin selalu bersama Zora, bukannya saling berjauhan seperti ini. Biasanya tiap sore dia dan Zora nongkrong di rumah pohon itu sambil memandang sunset yang fantastis, dan saling ngobrol.
Kenapa jadi begini, sih? Batin Catherine bertanya-tanya, dan ia mulai menangis saat ia teringat semua kenangannya saat bersama zora. Air matanya turun tanpa dapat dicegahnya. Lalu ia jatuh terduduk, dan mendekap lututnya sendiri.
Seseorang tiba-tiba saja memeluknya, membuatnya sedikit kaget. Tapi beberapa detik kemudian dia mulai rileks. Bau itu adalah wangi khas tubuh Zora. Pelukan itu adalah pelukan lembut Zora yang senantiasa menenangkan batinnya. Cat beringsut, memeluk Zora lebih erat, dan menangis lebih kencang. Zora jadi bingung.
“ Hey, kok malah makin kenceng nangisnya? Udah-udah,” ujar Zora lembut, mengelus rambut Catherine. “ maafin gue ya?”
Pernyataan maaf dari Zora membuat Catherine mengangkat kepalanya dari dada Zora, lalu menatapnya dengan mata yang sedikit bengkak. Zora balas menatapnya dengan lembut.
“ For what?”
“ Maaf karena gue egois. Seharusnya gue nemenin lo selama hari-hari ini, bukannya marah-marah sama lo. Maafin gue ya?” ucap Zora sambil menghapus sisa-sisa air mata di wajah sahabatnya itu. Catherine hanya diam, kemudian memeluk cowok itu dengan lebih erat.
“ Gue nggak marah kok. Gue cuma sedih aja, sebentar lagi gue nggak bisa lihat wajah jahil lo lagi.”
Perkataan terakhir Catherine membuat Zora mendapat ide cemerlang.
“ Tenang aja. Gue akan buat sesuatu yang spektakuler besok.”
***
Esoknya, Catherine berangkat ke sekolah dengan perasaan was-was. Pengalaman membuktikan, ide-ide Zora kebanyakan malah menimbulkan kekacauan. Pernah saat pensi dulu, Zora mengundang banyak topeng monyet. Tapi yang terjadi, monyetnya malah banyak yang kabur dan mengacaukan suasana.Semoga bukan ide yang ekstrem, batin Catherine lalu membuang semua pikiran-pikiran negatifnya.
Di lain pihak, Zora sedang menyiapkan kejutannya. Dia menatap hasil karyanya, dan tersenyum puas.
“ Oke, semuanya stand by di posisi masing-masing. Sebentar lagi teman kecil kita akan datang!” seru Zora, memberikan instruksi. Dalam hatinya dia bergumam, lo pasti akan terkejut, Cat!
***
Catherine kaget. Sangat kaget. Dalam benaknya, begitu ia sampai di gerbang sekolah dia akan disambut oleh ramainya orang. Tapi begitu ia sampai di kawasan sekolah, tak nampak satupun orang. Hanya ada pengumuman yang ditulis diatas papan tulis putih. Isinya:Catherine, pergi ke gedung pertemuan jika kamu ingin tahu seperti apa hadiahmu. By zora
Walaupun pikirannya penuh tanya, Cat tetap melangkahkan kakinya menuju gedung pertemuan. Sesampainya disana, ia agak ragu untuk memasukinya. Pasalnya, gedung pertemuan yang biasanya terang, kini gelap gulita. Dengan agak takut, Catherine melangkah masuk.
Tiba-tiba di kejauhan muncul satu nyala api diikuti dengan nyala api yang lain. Catherine terperangah. Semua orang ternyata ada disana sambil membawa masing-masing satu lilin. Zora tiba-tiba saja sudah berada di hadapannya dengan senyum lebar. Tanpa dikomandoi, terdengar koor yang membahana.
Waktu terasa semakin berlalu
Tinggalkan cerita tentang kita
Seakan tiada lagi kini tawamu
Tuk hapuskan semua sepi di hati
Zora merangkul Catherine yang mulai menangis, tak tahu harus sedih, terharu, atau bahagia. Zora mengelus rambutnya dengan lembut, berusaha menenangkannya.
Ada cerita
Tentang aku dan dia
Saat kita bersama
Saat dulu kala
Suara serak disampingnya membuat Zora menoleh. Catherine mulai ikut bernyanyi diselingi dengan sesenggukan. Cat menatap Zora yang juga menatapnya.
“ Gue pasti kesepian disana. Terus kabari gue lewat e-mail ya?”
“ Hah, cuma e-mail!? Kamu minta gajah pun bakal aku kirimin kok!” kelakar Zora, membuat Cat tertawa. Dia memeluk Zora dengan lebih erat.
“ Kamu adalah sahabat terbaik yang pernah kupunya,” ujar Catherine.
“ Kamu juga sahabatku yang paling hebat,” timpal Zora, mempererat pelukannya.
Ada cerita
Tentang masa yang indah
Saat kita berdua
Saat kita tertawa
Teringat disaat kita tertawa bersama
Ceritakan semua tentang kita
Tuesday, November 5, 2013
Mengapa kita bisa menangis

Anda mungkin salah satu dari orang-orang yang mudah menangis - tidak di pernikahan, pesta ulang tahun, tempat bermain di sekolah anak anda atau melihat pengumuman pelayanan umum yang menunjukkan gambar beberapa anjing yang menggemaskan yang memerlukan rumah atau pemilik baru. Atau anda mungkin tipe yang tidak bisa ingat kapan anda terakhir menangis.
Orang-orang yang menangis seringkali tertangkap sedang berlinangan air mata atau mereka yang biasanya tabah sedang menangis -- di tempat atau waktu yang menarik perhatian dimana anda tidak ingin menangis -- dan orang lain tidak ingin melihat anda menangis. Tanyakan saja pada pelatih New England Patriots Bill Belichick, yang biasanya tabah, menangis saat ia mengumumkan pengunduran diri bintang gelandangnya Tedy Bruschi. Atau Hillary clinton, yang menangis di suatu malam di waktu kampanye presiden di tahun 2008 yang terekam di layar televisi.
Pelatih football dan politisi menangis di depan publik menunjukkan suatu masyarakat yang sedang berubah menjadi sedikit lebih nyaman dengan emosi. Tetapi menangis di depan orang masih dapat menimbulkan kecanggungan untuk orang-orang yang menangis dan orang-orang yang di sekeliling mereka. Ada apa dibalik kita menangis? Mengapa ada beberapa orang yang begitu sering menangis atau malah kurang mudah menangis dibandingkan dengan orang-orang lain? Dan apa cara yang terbaik dalam menangani semua air mata ini? Adakah cara untuk tidak menangis di saat-saat yang sepenuhnya tidak pantas untuk menangis? Para peneliti dan para ahli terapi yang mempelajari menangis membagi apa yang telah mereka pelajari -- dan apa yang masih menjadi teka-teki bagi mereka.
Mengapa anda menangis?
"Mengapa" kita menangis tampaknya jelas dan langsung: Anda sedang bahagia atau sedih. Tetapi ini terlalu sederhana. "Menangis adalah reaksi emosional yang alami terhadap beberapa perasaan tertentu, biasanya kesedihan dan perasaan luka. Tetapi orang-orang juga menangis karena sebab-sebab dan kejadian-kejadian lain," kata Stephen Sideroff PhD, seorang staff psikologi di Santa Monica--University of California Los Angeles & Orthopaedic Hospital dan direktur klinik Moonview Treatment Center di Santa Monica, Calif.
Sebagai contohnya, ia mengatakan "orang menangis dalam menanggapi sesuatu yang indah. Di sini, saya menggunakan kata "mencair". Mereka melepaskan perlindungan mereka, pertahanan mereka, dan masuk ke dalam suatu tempat jauh didalam diri mereka sendiri."
Menangis bekerja untuk tujuan emosional, kata Sideroff, yang juga seorang assistant clinical professor of psychiatry di UCLA David Geffen School of Medicine. "Menangis adalah sebuah pelepasan. Menangis adalah sebuah penambah energi dengan perasaan-perasaan."
Menangis juga merupakah sebuah mekanisme pertahanan, catat Jodi DeLuca, PhD, seorang neuropsikologi di Tampa General Hospital di Florida. "Ketika anda menangis," katanya. "Ini adalah sebuah pertanda anda butuh menyampaikan sesuatu." Di antara hal-hal yang lain, menangis dapat berarti anda sedang frustasi, kewalahan, atau bahkan sedang berusaha untuk menarik perhatian seseorang, yang DeLuca dan para peneliti lainnya menyebutnya sebagai tangisan "secondary gain".
Di atas itu semua, menangis memiliki tujuan biokimia. Menangis dipercaya dapat melepaskan hormon-hormon stres atau racun-racun dari dalam tubuh, kata Lauren Bylsma, seorang murid Phd di University of South Florida di Tampa, yang memfokuskan menangis pada penelitiannya. Terakhir, menangis sepenuhnya memiliki fungsi sosial, kata Bylsma. Menangis seringkali memenangkan dukungan dari mereka yang melihat anda menangis. Kadang-kadang, menangis dapat memanipulasi - sebuah cara untuk mendapatkan apa yang anda inginkan, apakah meminta teman anda untuk menemani anda berbelanja, pasangan anda agar menyetujui sebuah liburan mewah, atau anak anda agar mereka segera menyelesaikan pe-er matematika mereka.
Menangis dengan suara keras: Siapa yang paling mungkin?
Menangis dengan suara keras: Siapa yang paling mungkin?
Para wanita cenderung lebih sering menangis dibandingkan para pria, demikian disimpulkan oleh kebanyakan para ahli. "Para wanita memiliki lebih banyak ijin untuk menangis. Namun dalam beberapa tingkat, terdapat perubahan." kata Sideroff. Tetapi tidak seluruhnya. "Menangis masih dilihat oleh banyak orang, terutama oleh para pria, sebagai suatu tanda kelemahan." kata Sideroff.
Jika berbicara mengenai kebiasaan menangis, keseluruhan penduduk berada pada sebuah spektrum, kata para ahli, dengan beberapa yang mudah menangis dan beberapa yang jarang menangis. Para ahli tidak sepenuhnya yakin mengapa, meskipun temperamen bisa jadi berperan di sana. "Beberapa orang lebih cenderung untuk mudah menangis," kata Sideroff. "Orang-orang yang lain mengabaikan atau tidak terganggu oleh hal-hal tertentu (yang memprovokasi mereka untuk menangis)."
Orang-orang yang memiliki sejarah trauma didapati lebih sering menangis, kata Sideroff. Ini sepenuhnya benar, katanya, jika mereka memikirkan masa lalu itu. "Jika anda tetap memikirkan kembali trauma di masa lalu atau sakit emosional, akan membangkitkan lebih banyak perasaan terluka." Para wanita yang dilaporkan menderita kecemasan atau kegelisahan, juga mereka yang periang dan empati mengatakan mereka merasa lebih nyaman menangis, menurut Bylsma. Hasil-hasil penelitian Bylsma dan yang lainnya dipublikasikan di Personality and Individual Differences.
Manfaat dari menangis
Manfaat dari menangis
Orang-orang sering merujuk sebuah tangisan sebagai hal yang baik dan mengatakan mereka merasa lebih baik sesudahnya. Tetapi apakah itu selalu benar? Biasanya, tetapi tidak selalu lebih baik, kata Bylsma. Dalam sebuah penelitian atas hampir 200 wanita Belanda, Bylsma mendapati bahwa kebanyakan memang mengatakan mereka merasa lebih baik setelah menangis. Tetapi tidak setiap orang. "Kami mendapati orang-orang yang berada pada tingkat depresi atau kecemasan yang lebih tinggi merasa bahwa mereka merasa lebih buruk setelah menangis." Persisnya mengapa tidak diketahui, katanya. Ini bisa jadi karena mereka yang depresi atau gelisah tidak memperoleh manfaat-manfaat yang sama dari menangis seperti yang diperoleh orang-orang lain.
Mengatasi tangisan
Mengatasi tangisan
Jika anda bukan penangis kelas dunia tetapi sering berada di seliling mereka yang menangis, hal ini dapat membuat anda canggung, tidak berguna dan tidak nyaman. Hal ini karena saat seseorang menangis, mereka menunjukkan kerentanan mereka, kata Sideroff. "Saya rasa secara umum, orang-orang tidak nyaman dengan kerentanan." Saat orang yang menangis mempertunjukkan kerentanannya, Sideroff berkata "ini menggeser tingkat kedekatan atau keintiman lingkungan." Dalam beberapa kasus, berada dalam lingkungan yang lebih intim seperti itu membuat orang-orang lain tidak nyaman, katanya. Jadi bagaimana anda dapat -- dan bagaimana anda seharusnya -- menanggapi orang yang menangis? Berikut 4 petunjuknya:
- Selalu sadar bahwa jika anda tidak melakukan apa-apa, anda dapat membuat orang yang menangis ini merasa lebih buruk, kata Bylsma.
- Cobalah melakukan sesuatu yang mendukung. Apa itu tergantung pada situasi dan seberapa baiknya anda mengenal orang ini. "Jadi memeluk seseorang yang tidak anda kenal dengan baik mungkin tidak pantas, lebih pantas jika hanya mendengarkan dengan empati." kata Bylsma.
- Jangan berasumsi anda tahu bagaimana membuat orang yang menangis itu nyaman. "Jika hubungan anda tidak dekat, lebih pantas dengan memulainya dengan menanyakan apa yang bisa anda bantu dan menjadi suportif." kata Sideroff.
- Menyadari bahwa orang-orang yang menangis di sebuah kelompok yang sangat besar biasanya merasa lebih tidak nyaman daripada mereka yang menangis di depan satu atau dua orang yang mereka kenal. Tetapi bahkan dalam sebuah kelompok yang besar, mereka yang menangis mendapat dukungan dari orang-orang yang mereka tidak kenal baik, demikian didapati Bylsma.
Cobalah untuk tidak menangis
Kadang-kadang, menangis itu tidak menenangkan -- anda sedang mencoba memasang wajah tabah saat sedang menemani orang yang anda cintai menjalani sebuah pengobatan medis, misalnya. Atau atasan anda baru saja memberitahukan anda bahwa jam kerja anda akan dipotong setengahnya.
Apa yang harus dilakukan? Bylsma memberikan saran-saran ini:
Apa yang harus dilakukan? Bylsma memberikan saran-saran ini:
- Cobalah untuk menunda menangis tetapi jangan mengurungkan niat untuk menangis sekaligus. Menahan itu tidak baik.
- Beri alasan untuk keluar, cari tempat yang sesuai, dan menangislah
- Jika anda tidak bisa meninggalkan situasi, tunda tangis anda dan bendung airmata anda dengan sebuah pengalihan yang positif. Ini tergantung pada orang dan situasinya, tetapi Bylsma menganjurkan untuk menonton sebuah video lucu. Jika anda berada di tengah kantor seorang dokter, anda bisa menyambar sebuah majalah dan membacanya.
Kelemahan dari tidak menangis
Terlalu sering menangis bisa membuat yang melihat tidak nyaman, tetapi tidak pernah menangis juga tidak sehat secara mental. "Untuk berbagai alasan, banyak orang yang menelan kembali air mata mereka; mereka menekannya," kata Sideroff. Salah satu konsekuensinya adalah kita seperti mematikan diri kita sendiri, dengan menekan dan bahkan tidak menyadari bahwa kita memiliki perasaan-perasaan itu didalam. Cara yang terlihat ke dunia luar adalah depresi."
Lebih baik mengakui perasaan-perasaan seperti kesedihan dan terluka, katanya. "Perasaan-perasaan bukanlah mengenai baik atau buruk, perasaan hanyalah perasaan." Mereka yang menekan emosi-emosi mereka dan tidak dapat menangis bisa membahayakan kesehatan fisik mereka, kata DeLuca. Ia mengutip sebuah ucapan yang dikaitkan dengan psikiater Henry Maudsley, antara lain "Duka yang tidak dikeluarkan melalui airmata dapat membuat organ-organ tubuh yang lain menangis."
Subscribe to:
Posts (Atom)